1000 Masjid Peninggalan Mbah Harto

Sejak lama saya ingin menuliskan hal ini. Tidak ada urusannya dengan momentum G30S PKI yang diperingati 30 September mendatang atau isu serupa tentang PKI yang kini kembali diangkat. Tidak pula didasarkan antara pro atau kontra atas kepemimpinan Bapak Pembangunan itu. Tulisan ini murni ingin mensyiarkan bahwa ada hal besar yang mungkin ada yang belum mengetahui di antara kita, sebuah peninggalan Sang Jenderal Besar untuk Ummat Muslim di Penjuru Nusantara yang masih bisa dirasakan hingga detik ini, yaitu Peninggalan 999 Masjid serupa yang tersebar di seluruh Indonesia dan satu masjid besar, Masjid at-Tiin di Jakarta.

Rasa penasaran saya bermula ketika saya studi di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), salah satu kampusnya berlokasi di Lidah Wetan, Surabaya. Ada bangunan masjid utama yang berdiri di dekat Gedung Program Profesi Guru yang memiliki sembilan lantai itu, Masjid Baitul Makmur II namanya. Pasti ada Masjid Baitul Makmur I, ya tapi letaknya di kampus utama Ketintang. Sekilas tidak ada yang aneh dari bangunan ini. Tapi ketika saya berkunjung ke kota Tuban, saat mengunjungi Kakek, saya menemukan kesamaan dari sisi jumlah lapisan atap yang terdiri dari tiga susun. Suatu ketika saya singgah untuk menunaikan sholat Maghrib ketika perjalanan pulang ke Surabaya, tepatnya di sebelum perempatan utama Jl. Veteran Gresik memasuki Kota Surabaya. Di situ saya menemukan hal yang sama, sama-sama memiliki kubah tiga lapis, sama-sama kubahnya dari genteng berbentuk kuncup seperti masjid Agung Demak atau Masjid Agung Tegalsari Ponorogo, sama-sama ditempelkan marmer peresmian masjid bertanda-tangan “Soeharto” sebagai ketua yayasan.

Fikir saya, apa iya nama di marmer itu adalah nama milik Presiden yang pernah memimpin Indonesia terlama itu, tapi dugaan besar saya nama itu milik orang lain yang kebetulan namanya sama. Tidak mungkin rasanya seorang presiden tanda tangan meresmikan berbagai masjid kecil di daerah-daerah apalagi atas nama ketua yayasan.

Pertanyaan saya semakin bertambah ketika pulang kampung singgah di masjid Mujtahidin, Kampus Universitas Tanjungpura yang terletak di Kota Khatulistiwa, Pontianak. Dulu sebelum direnovasi seperti sekarang ini, bentuknya begitu terlihat sama dengan masjid di kampus Unesa Surabaya, persis juga dengan masjid di Tuban yang pernah saya kunjungi. Benar-benar persis alias mirip sampai pada lekuk ventilasi udara di atas cendelanya. Pertanyaan belum usai, ketika saya di Kota Sintang, kota yang berjarak 325 km-an dari Ibukota Provinsi, kota yang baru mulai berkembang meskipun daerah ini ada sudah sejak 670-an tahun yang lalu, kota peradaban kalimantan pada masa itu. Tepat di jalan lintas Sintang-Putussibau berdiri kokoh Masjid Al-Amin seperti di gambar. Semakin menambah kebingunan, sebenarnya ada hubungan apa antara masjid di Surabaya, Tuban, Gresik, hingga Pontianak dan Sintang ini? Apa ada hubungan terselubung?. “Hebat sekali”, begitu dalam benak saya. Betapa hebat yayasan ini bisa membangun masjid dimana-mana, serupa pula.

Usut-usut punya usut setelah googling, saya baca berbagai artikel, ternyata benar, adalah Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila (YABMP) diprakarsai dan diketuai oleh Presiden Soeharto. Bermula pada 17 Pebruari 1982 yayasan ini didirikan sebagai ajakan pada umat untuk menumbuhkan semangat bersedekah. Semangat patungan ini dalam upaya menghimpun daya dan dana untuk memenuhi kebutuhan umat Islam di dalam melaksanakan ibadahnya sebagai mayoritas di negeri ini, begitu tulis Alwi Shahab.

Pertanyaannya dari mana sumber dana yayasan ini bisa membangun masjid sebanyak itu? jawabannya, yayasan ini mengumpulkan dana yang berasal dari Pegawai Negeri Sipil (Korp Pegawai Republik Indonesia), TNI/Polri yang bergama Islam yang nilainya: Rp 50 (golongan I), Rp 100 (golongan II), Rp 500 (golongan III), dan Rp 1.000 (golongan IV), berdasarkan jenjang masing-masing pegawai. Hal ini sesuai dengan surat edaran Direktur Jenderal Anggaran Departemen Keuangan.  Selain dari PNS dan TNI Polri, sumbangan juga dihimpun dana dari beberapa penguasaha dan dermawan luar negeri. Pada bulan Juli 1998 sumbangan tersebut dihentikan. Hingga waktu itu telah terkumpul dana Rp. 137.972.7999.580,71.

Menurut portal pak Harto.co, total anggaran untuk pembangunan 999 masjid tersebut mencapai Rp. 207.572.855.003,40. Selisih anggaran antara dana yang berhasil dihimpun dari kalangan PNS dan TNI-POLRI dengan realisasi pengeluaran pembiayaan masjid tentunya digalang dari para dermawan secara sukarela atas dorongan Presiden Soeharto. Wow, amajing kan, jika melihat itu hitungan uang pada tahun 1998, masa-masa krisis ekonomi, masa-masa uang jajan masih Rp. 500 sampai Rp. 1000,- ketika saya bersekolah di SD Inpres Lelejae di Sulawesi Selatan.

Pertanyaan selanjutnya, 999 masjid ini sebenarnya tersebar kemana saja sih?. Dilansir dari situs pak Harto.co, Masjid-masjid yang dibangun tersebut tersebar di seluruh wilayah (provinsi) Indonesia dari berbagai kelompok masyarakat seperti:

  1. Kompleks Lembaga pendidikan/Pondok Pesantren (200) unit.,
  2. Kompleks Kantor/Perumahan Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) sebanyak (159) unit.
  3. Kompleks Kantor/Perumahan Angkatan Bersenjata RI (61) unit.
  4. Pemukiman Transmigrasi (10) unit.
  5. Pemukiman Masyarakat Umum dimana ada lokasi-lokasi yang sulit dicapai atau daerah terpencil karena sangat jauh dari akses transportasi sebanyak (569) unit

Secara keseluruhan telah didirikan 999 Masjid yang tersebar di seluruh Provinsi di Indonesia dengan perincian 495 Masjid tipe 15, 375 Masjid tipe 17 dan 129 Masjid tipe 19. Masjid-Masjid yang dibangun YAMP memiliki desain arsitektural khas, bercungkup susun tiga, sebagaimana corak asitektural masjid khas Nusantara pada masa lalu. Hal ini selain efisien pembiayaan jika dibandingkan dengan cor kubah besar, desain tersebut juga melestarikan kearifan lokal, dimana corak arsitektural Masjid bercungkup susun tiga merupakan simbol kesejalinan antara Islam dengan budaya nusantara.

Bentuk ini mengandung makna filosofi yang menggambarkan perjalanan manusia menuju Tuhan-nya Allah SWT. Tiga cungkup menggambarkan alam kehidupanm manusia yang terdiri dari ‘’Alam Purwa’’, ‘’Alam Madyo’’, dan ‘’Alam Wusono’’. Pendekatan kultural inilah yang pada masa lalu masyarakat Nusantara secara luas mudah menerima ajaran Islam. Berbeda dengan bangunan-bangunan masjid yang dibangun oleh kebanyakan orang pada saat ini yang arsitekturalnya bercorak Timur Tengah.

Ada hal yang membuat saya kembali tercengang, bahwa tidak hanya membangun masjid, yayasan ini juga menyalurkan dananya ke hal lain. Secara rinci saya lampirkan berikut:

  1. Kegiatan Da’i Transmigrasi kerja-sama Majelis Ulama Indonesia untuk 2.688 orang Da’i dengan total biaya Rp. 8.229.290.500,-
  2. Bantuan sepeda untuk 3.000 orang Da’i Transmigrasi kerjasama Majelis Ulama Indonesia dengan total biaya Rp. 445.162.500,-
  3. Bantuan kegiatan Imam Transmigrasi kerjasama kerja-sama Majelis Dakwah Islamiyah untuk 968 orang Imam dengan total biaya Rp. 1.028.466.000,-
  4. Bantuan untuk pembangunan 4 Rumah Sakit Embarkasi Haji (Medan, Jakarta, Surabaya dan Ujung Pandang) Rp. 2.000.000,-
  5. Bantuan pembangunan Masjid di Port Moresby, Papua New Guinea S $ 100.000.- atau @ Rp. 2.394,-) senilai Rp. 239.400,-
  6. Bantuan pembangunan Masjid di New York Amerika Serikat US $ 150.000.- atau @ Rp. 2.035,-) senilai Rp. 245.777.000,-

Luar biasa jasa Pak Harto di lihat dari sisi kepedulian untuk meninggalkan sebuah jejak yang tidak akan habis pahalanya hingga akhir zaman. Setiap waktu akan terus bernilai pahala bagi semua yang terlibat, bahasa lainnya Transfer Amal, karena setiap kali ada aktifitas ibadah di 999 masjid itu maka otomatis amal pun terus mengucur deras kepada yang terlibat dulu hingga sekarang. Semoga ada inisiatif-inisiatif cerdas semacam ini yang kembali digagas, masih banyak kog fasilitas ibadah yang belum memadai atau bahkan belum menjangkau suatu komunitas di negeri ini. Pada akhirnya, yayasan amal ini telah menorehkan sejarah emas, banyak pelajaran berharga yang bisa kita ambil. Yuk coba absen dulu, sahabat ada yang pernah menemukan masjid peninggalan dari Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila di sekitarmu..??????.

 

Salam,

Ady Setiawan

Tinggalkan Balasan