DKI Kartanegara

Kemarin Presiden Joko Widodo resmi mengumumkan pemindahan ibukota baru.
Lokasinya di Kalimantan Timur. Sebagian area Kab. Penajam Paser Utara. Sebagian Lagi Kab. Kutai Kartanegara.
Koordinat lokasinya belum diketahui pasti.
Meskipun, 18 Agustus lalu. Saya mendapatkan ‘bocoran’ lokasi melalui WA grup PATRI (Persatuan Anak Transmigran Republik Indonesia).
Menurut gambar, lokasinya di area kecamatan Samboja, dan sekitarnya.
Lokasi ini mayoritas adalah daerah transmigrasi.

Menurut Presiden, ada lima hal yang mendasari pemindahan ibukota ke Kalimantan.
Pertama, risiko bencana minimal, baik banjir, gempa, tsunami, kebakaran hutan, gunung berapi, dan tanah longsor.
Kedua, lokasi strategis, ada di tengah-tengah Indonesia.
Ketiga, kedua kabupaten itu terletak di antara dua kota yang sudah berkembang, Balikpapan dan Samarinda
Keempat, infrastruktur yang relatif lengkap.
Kelima, telah tersedia lahan yang sudah dikuasai pemerintah, seluas 180 ribu hektare.

Masih menjadi pertanyaan. Apa nama ibukota baru itu?
Presiden belum mengumumkannya.
Kalau menggunakan ilmu cocoklogi, nama Kalimantan Timur rasanya kurang simpel didengar dan diingat untuk menjadi nama ibukota negara Indonesia.
Jika menggunakan nama Penajam Paser Utara ataupun Kutai Kartanegara juga terasa masih belum pas.
Mengingat area ibukota baru terletak di antara keduanya.
Awalnya saya menduga kota Palangka Raya yang akan dipilih. sebuah nama besar. Sebanding dengan kata Indonesia Raya. Tapi bukan itu pilihannya. Sudahlah. Harus move on.

Maka sejak pengumuman disampaikan. Saya terfikir untuk ikut mengusulkan bakal nama ibukota yang dirasa pas mantap.

Kota Kartanegara.

Nama itu terlintas di fikiran saya.
Usut punya usut. Karta berarti selamat ataupun aman. berasal dari bahasa Sanskerta. Negara ya tentu artinya negara.

Kata “Karta” tidak lagi asing kita dengar. Kebesarannya sudah diuji dan dibuktikan dengan nama Ngayogya-Karta Hadiningrat, Sura-Karta, ataupun Karta-sura. Juga kata Jakarta yang berasal dari kata Jaya dan Karta. Kebetulan semuanya itu ada di tanah Jawa.

Dari sisi sejarah. Kesultanan Kutai Kartanegara yang bercorak Islam itu. Sejatinya bernama Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura atau lebih dikenal Martapura.

Berdiri pada tahun 1300 oleh Aji Batara Agung Dewa Sakti di Kutai Lama dan berakhir pada 1960. Sebelum kembali dihidupkan pada 2001 lalu. Yang saat ini dipimpin oleh putera mahkota Aji Pangeran Prabu Anum Surya Adiningrat itu.
 
Awalnya kerajaan itu bernama Kerajaan Kutai Martadipura. Bercorak Hindu. Yang memiliki bukti sejarah tertua di bumi Nusantara itu. Raja yang terkenal adalah Mulawarman ataupun Kudungga. Berdiri sekitar abad ke-4, sekitar tahun 350-an masehi. Dan berakhir pada 1600-an. Kemudian diambil alih oleh Kesultanan Kutai Kartanegara yang eksis sampai hari ini.
Nama Kertanegara juga pernah ada. Adalah Sri Maharaja Kertanagara. Sang raja terakhir Singosari. Menantunya adalah Raden Wijaya. Pendiri Majapahit. Kerajaan ternama dan terlama itu. Sang Raja dikisahkan wafat karena ulah Jayakatwang. Kalau berkaca dari tokoh ini, memang kata “Raja Kartanagara” sedikit meninggalkan memori negatif.

Tapi bukan ini inspirasi utamanya, melainkan berangkat dari arti kata dalam bahasa Sanskerta dan berdasarkan cerita kejayaan kerajaan Kutai Kartanegara yang sudah berdiri ratusan tahun lalu hingga saat ini.

Usulan nama Daerah Khusus Ibukota (DKI) Kartanegara itu diharapkan menjadi doa. Agar negaranya senantiasa selamat dan aman sentosa, adil makmur, gemah ripah loh jinawi.
selain itu, menurut hemat saya. Nama “Kartanegara” sangat mudah diingat. simple dan membanggakan di mata dunia.
 
Menurut saya lagi, kata “Kartanegara” bisa disejajarkan dengan nama Nusantara ataupun Indonesia.
Seperti halnya nama besar yang ‘bakal’ jadi mantan itu, Kota Batavia, Jaya Karta, alias Jakarta.

Jadi, saya usul nama ibukota baru itu adalah “DKI Kartanegara“.

Kalau jadi.

Tinggalkan Balasan