Indah yang Setengah

SILATURAHMI memang tak ada ruginya.

Kemarin pagi sy menemui Ustadzah Masruraini, kakak satu almamater di Ngabar, terpaut sekitar 18 tahun. Saat ini sebagai kepala MI, setelah lama memimpin jenjang MTs. MI-nya diperhitungkan. Salah satu MI favorit number one di Kota Singkawang. Beliau asli putri daerah.

Ayahnya, Kyai Rasnie, pendiri dan pengasuh Pesantren Ushuluddin, salah satu pesantren ternama di Kalbar. Pesantrennya lengkap, hingga jenjang SMA/MA. Lokasinya pun sangat baik, di tengah kota, tidak jauh dari Rumah Adat Melayu.

Sesuai namanya, pesantren ini ada untuk menyiapkan generasi dengan asas-asas (pondasi) agama yang kuat.

Kyai Rasnie merintis pesantren saat usia beliau masih 24 tahun, bujang, pada 1974. Merintis bersama beberapa kawannya. Kini, setelah hampir 45 tahun berdiri, alumninya sudah sangat banyak. Melahirkan alumni dengan berbagai profesi. Ulama hingga Umara dan akademisi.

Seingat saya, lebih dari 10 orang yg bergelar Doktor. Salah satunya, bisa menyelesaikan doktoral di Universitas di Madinah. Juga ada yg menjadi Direktur Pascasarjana di kampus Negeri di Pontianak. Hebat benar. Ini dia investasi amal jariyah. Investasi yang tak ada ruginya. Memanglah, Pendidikan jalur investasi masa depan yg terbaik tuk menyiapkan generasi dgn ilmu dan keahlian.

SAYA banyak mendengar cerita sejarah perjuangan Pondok hingga sejarah Kota Singkawang dari suami ustadzah Masruraini. Adalah Ustadz Muchlis. Juga asli putra daerah, sekarang menjabat Ketua MUI di Kota multietnis itu. Kebetulan ia alumni Magister Administrasi Pendidikan, Universitas Tanjungpura (Untan). Sangat hafal peta perjuangan pendidikan di Kalbar. Jadi, rasanya dalam sekejap, beberapa buku sejarah tuntas saya baca. Lewat media mendengar hehe. Sungguh tak rugi saya datang bersilaturahmi. ☺️

RUTE SELANJUTNYA, mampir ke Pesantren Sengkubang, salah satu pendirinya, Kyai Tusirana, satu almamater juga, terpaut sangat jauh. Sekira 30 tahun. Saat ini beliau juga tengah diamanahi sebagai ketua MUI Kabupaten Mempawah. Kyai Tusirana bersama dua tokoh pendiri lainnya, merintis pesantren pada 1992, dua tahun lalu genap berusia 25 tahun. Sistem pendidikannya modern. Bahasa Arab dan Inggris menjadi salah satu program unggulan. Adapula program Tahfidzul Qur’an. Lokasi pesantren ini sangat strategis, di pinggir jalan raya, rute Provinsi juga AntarNegara. Masjidnya megah lagi Indah. Indah sekali. Cantik. Anggun. Menghadap laut lepas. Namanya Masjid Rayyana.

LANJUT LAGI ke Pesantren Al-Mukhlisin. Disambut Ustadz Ma’ruf, terpaut tidak terlalu jauh. Salah satu pengurus yayasan. Meskipun demikian, masih cukup banyak abang kakak alumni yg blm bisa ditemui kali ini

SYUKUR RASANYA, nyaris semua abang kakak senior berkhidmat dengan masyarakat, cukup banyak di antaranya yg menempati posisi2 penting dalam perjuangan pendidikan di Kalbar. Hari ini sy sedang belajar. “Mereka sudah dan sedang berbuat, lalu aku???”.

Betapa Indahnya Silaturahmi. Sungguh, Indah. Meskipun Indah(nya) masih setengah ☺️.

Pondok Pesantren Ushuluddin Singkawang

 

Masjid Rayyana, Pondok Pesantren Darussalam Sengkubang; dan lingkungan Pesantren Al-Mukhlisin Mempawah

Tinggalkan Balasan