Kadoku

Predikat dan angka memang bukan segalanya,
Tapi, bisa dijadikan tanda
Bahwa kita sudah berbuat dan berusaha.
Kado kebahagiaan untuk kedua orang tua.

Kadoku untukmu, Ibu Bapak.

——-

Pendidikan magister.

Dulu hanyalah mimpi. Bahkan belum masuk antrian impian.
Mimpi saya hanya ingin jadi seorang sarjana. Itu saja.

Terinspirasi dari empat mahasiswa KKN dari Universitas Tadulako, Palu.

Mereka tinggal dan menetap di rumah kami. Selama program KKN. Sekitar satu bulan. Kalau tidak salah. Pertengahan tahun 2003. Saat bapak masih menjabat sebagai kepala kampung. Alias kepala desa.

Kami tinggal di kampung. Daerah Transmigrasi. Agustus 1997 pertama kali kami menginjakkan kaki ke desa itu. Namanya Desa Sumbersari, Kec. Baras, Kab. Mamuju Utara, Sulawesi Barat. (Sekarang, Kabupaten Pasangkayu).

Waktu itu, Ibu pernah bilang, “Semogo iso koyok mas mbak kui ya le” (semoga bisa seperti abang kakak mahasiswa itu ya nak)
Saya ingat betul kalimat itu. Ingat sekali runtutan kata-kata itu. Meskipun beberapa kali juga ibu mengatakan. Entah nanti bisa sampai meng-kuliah-kan atau tidak. Ragu. Tidak yakin dengan keadaan saat itu.
Bapak petani tulen. Ibu, ibu rumah tangga tulen. Sementara anaknya ingin jadi sarjana.
meskipun saat ini memang sudah banyak. Banyak sekali. Banyak pula diberitakan.

Tapi dulu. Masih belum atau kurang lazim impian itu bagi kami.

Saya mengawali menjemput impian itu dengan bersekolah di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo. Pertama kali saya sekolah jauh. Jauh sekali. Lintas pulau. Antara Sulawesi Barat dan Jawa Timur.

Saat nyantri itu, ada satu momen yang saya ketahui terlambat.

Ibu bapak pernah kebingungan mengirimkan uang bulanan. Karena keadaan ekonomi yang kritis. Krisis massal tahun 2009. Solusinya, bapak harus ikut bekerja dengan orang lain. Jauh sekali lokasinya. Meninggalkan ibu dan adik yang masih kecil di rumah. Bapak tinggal di dalam perkebunan. Itu semua, sekedar untuk memberikan jatah bulanan anaknya.

Tidak hanya itu, mereka sampai harus harus menjual ayam kampung yang dimiliki. hanya untuk mengirimkan uang bulanan anaknya.

Rasanya terpukul. Sedih.

Saat mengetahui itu saya ingin kembali ke kampung. Ingin membantu bapak.

Tapi itu bukan pilihan terbaik. Lagi pula saya sudah setengah perjalanan. Dua tahun lebih saya lalui.

Jadi pulang bukanlah solusi. The show must go on.

Ringkasnya, alhamdulillah permasalahan demi permasalahan bisa selesai tuntas. Hingga di tahap wisuda.

Saat itu, saya hanya bisa menduduki predikat lulusan terbaik urutan ke-4. Kalau ibarat pertandingan, itu juara harapan. Tidak dapat panggung.

Orang tua tidak bisa maju ke depan saat pengumuman tiga lulusan terbaik. Menyesal rasanya. Tidak bisa memberikan hadiah. Orang tua sudah jauh-jauh datang.

Rasa ini terulang.

Saat Wisuda S1 di Universitas Negeri Surabaya.

Hanya bisa memberikan hadiah berupa predikat Cumlaude.

Rasanya kurang puas. Ada yang ganjel ning ati. Tapi gak sampe ambyar.

Lumayan lah.
Hari ini, alhamdulillah. Syukur Alhamdulillah.

Kado kecil yang sudah lama kuimpikan itu. Kado yang sudah cukup lama kuharapkan itu.

Bisa terwujud. Setidaknya bisa jadi pengobat peluh usaha mereka.
Sebuah pencapaian kecil, tapi semoga manis.

Khususnya untuk kedua orang tua.
Bisa termasuk Wisudawan Terbaik masih seperti mimpi. Peserta wisuda kali ini 2.562 orang. Jumlah yang spektakuler. Jumlah Wisudawan Terbanyak sepanjang sejarah berdirinya Universitas Tanjungpura. Sejak tahun 1959.

Membuat prosesi wisuda dibagi menjadi dua sesi. Saya mengikuti keduanya. Katanya, ini juga kali pertama ada mahasiswa yang bisa mengikuti dua kali sesi wisuda.

Mengisi keluangan waktu pada saat mengikuti wisuda sesi kedua.

Saya gunakan untuk menulis catatan ini di Hp.

Foto Seusai Ujian Tesis, bersama Dr. Aswandi, Dr. Hj. Sukmawati, dan Dr. Chiar. (Dr. Wahyudi meninggalkan ruangan lebih awal)
Foto bersama Rektor Untan, Prof. Dr. Garuda Wiko, S.H., M.Si

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Teringat perjuangan selama studi magister.
Tertatih-tatih.

Halangan rintangan membentang. Seperti lagu fenomenal itu.
Saat pendaftaran, nyaris tak jadi mendaftar.

Karena biaya mandiri yang disiapkan, saya ikhlaskan digunakan untuk hal lain.

Saat itu, Juli 2017, Allah mengambil kembali kakek tercinta. Ibu harus terbang ke Tuban, Jawa Timur.
Saat itu, saya berbesar hati. Fikirku, mungkin memang belum saatnya melanjutkan studi.
Tentu berat bagi saya, baru pindah ke Pontianak, masih sangat menyesuaikan segala hal, sementara harus lanjut studi S2 secara mandiri.

Sudah putus asa. Tapi tetap menerima. Belum bias lanjut studi S2. Tidak apa. Toh tidak ada batasan usia. Atau setidaknya, tidak seperti keseragaman usia saat S1 dulu.

Jadi hati sudah mantap. Mengundurkan diri dari pendaftaran mahasiswa baru itu.
saya menghadap Dr. Wahyudi, Ketua Prodi kami saat itu.

Saya ceritakan. Saya sampaikan maksud untuk undur diri. Tapi beliau justri mengelak. Sebaliknya, beliau sangat mendukung saya melanjutkan registrasi. Merekomendasikan dan menyarankan pengajuan penundaan pembiayaan.
Ringkasnya, saya berhasil mendapatkan keringanan dan alhamdulillah bisa melanjutkan.

Tertatih periode pertama yang saya rasakan. Saat memulai studi di Pascasarjana Universitas Tanjungpura.

Masih ada tertatih periode-periode selanjutnya. Tidak jauh dari masalah pendanaan.

Tapi, kebersamaan di kelas menjadi salah satu solusi. Mayoritas kawan kelas merupakan para kepala sekolah. Pribadi yang sudah mapan secara karir dan ekonomi.

Saya belajar banyak hal dari mereka. Tentang pendidikan secara praktis.

Kesibukan mereka juga menjadi salah satu rejeki.

Saya sering diminta bantu dalam pengerjaan tugas. Harus saya akui. Hehe

Tapi tenang, saya berusaha tidak borongan. Mengerjakan yang bias dikerjakan.

Berusaha mengajak pemilik tugas kuliah tersebut untuk bias aktif, tidak pasrah borongan.

Ini salah satu jalan rejeki saya selama kuliah.

Selain juga dari pekerjaan rutinitas dari LBB. Juga honor tenaga kontrak di Dinas Pendidikan Kota Pontianak.

Adapula usaha melalui layanan percetakan. Kami beri nama Pontimedia.com. Usaha ini fokus pada percetakan kartu pelajar dan map raport/ijazah sekolah. Alhamdulillah keuntungannya lumayan. Saat masa kampanye tiba, kami juga melayani percetakan kalender, brosur, dan sejenisnya.

Sekali lagi, perlahan tapi pasti. Tertatih tapi sampai.

Alhamdulillah.

Tulisan ini sekaligus ingin menjadi media saya.

Menyampaikan terima kasih kepada beberapa pihak yang sangat berkontribusi selama studi.

Pertama dan utama, tentu kepada kedua orang tua tercinta. Tidak perlu saya tulis apa saja yang sudah diberikan. Tidak bias dituliskan. Bahkan kalau ada sambungan tulisan ini.

Kedua, terima kasih saya sampaikan kepada Bunda Dr. Hj. Sukmawati, M.Pd. Ketua Program Studi yang juga menjadi ibu kedua saya di perantauan. Sosoknya kalem, keibuan, dan syarat perhatian.

Banyak sekali kontribusi beliau. Selama saya studi. Yang tidak dimiliki dosen lain. Menurut saya. Adalah perhatiannya yang sangat terlihat dan konsisten. Selalu berusaha mengontrol.

Bukan hanya satu dua mahasiswa. Rasanya, beliau berusaha memperhatikan semua mahasiswanya secara maksimal.

Ketiga, Dr. M. Chiar dan Dr. Wahyudi. Keduanya dosen pembimbing dan penguji. Kontribusinya landai. Tidak terlalu terlihat. Tapi sangat mengena.

Foto bersama Wakil Rektor I, Dr. Aswandi

Keempat, Dr. Aswandi. Rasanya, beliau itu Dosen lokal kualitas Nasional. Menjadi salah satu impian saya. Menjadi ahli pendidikan seperti beliau. Mendalami sekali. Suka membaca kaya referensi.

Sebuah kebanggaan bias diajak beliau dalam menulis dan menyusun bukunya. Berjudul “Pendidikan dan Perubahan”, dan “Kapita Selekta Pendidikan Bagian I dan Bagian II”. Karya pertama saya berkolaborasi dengan beliau. Menjadi motivasi untuk karya penulisan buku-buku berikutnya.

 

Bersama Sandra, Bang Menteng, dan keluarga seuai prosesi wisuda sesi I

Kelima, para kawan-kawan seperjuangan. Khususnya kelas A. semuanya. Sangat berkontribusi. Khususnya Sandra dan Bang Menteng. Kami ibarat tiga sejoli. Kemana-mana nyaris bersama. Silang pendapat itu biasa. Bahu-membahu menjadi tradisi. Sahabat sekaligus saudara.

Tulisan ini juga saya dedikasikan untuk para guru.

Semua guru-guru di semua jenjang yang pernah saya lalui.

Guru di SD Inpres Lelejae, Sulawesi Barat.

Guru di MTs Al-Hikmah Karave, Sulawesi Barat.

Guru di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo.

Serta Dosen di Jurusan Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Surabaya.

Saya bisa mencapai titik prestasi kecil ini, semua karena guru dan dosen.

Semua karena mereka.

Selain karena sebab pamungkasnya. Kasih sayang dan doa kedua orang tua.

Semoga pencapaian kecil ini bisa jadi kado untuk mereka.

Semoga juga kita selalu mencintai, menghormati, dan menghargai orang tua.

Juga para Guru, dosen, dan orang-orang yang telah mengajari kita.

 

Pontianak, 1 November 2019

 

Tinggalkan Balasan