“Masuk Pak Eko…!”, Siapa Dia Sebenarnya?

“Masuk Pak Eko…!”, Siapa Dia Sebenarnya?

Budaya Jawa telah melebur di seantero Nusantara, bahkan dunia. Salah satunya di Kalimantan Barat, saya mendapati malam ini Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) cabang Kalbar akan melakukan pergantian kepengurusan, sebelumnya diketuai oleh Prof. Dr. Slamet Rahardjo, warga Pontianak keturunan Jawa. Tidak hanya wayang, jenis kreatifitas seni Jawa lainnya juga sudah menyebar di hampir setiap daerah di Tanah Khatulistiwa ini.

Malam ini saya berencana menyaksikan penampilan beberapa dalang yang menyuguhkan pagelaran wayang kulit di Area Kampus Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat. Menonton wayang ini, mengingatkan saya pada salah satu hal yang lagi viral saat ini. Kalimat “Masuk Pak Eko!”. Loh kog bisa?. Apa hubungannya? Itu kan Pak Polisi, kog dikaitkan dengan pewayangan? Dan lain-lain. Mungkin pertanyaan itu akan muncul.

Begini ceritanya. Kita awali dari yang lagi viral dulu. Sampai-sampai DJ Marshmello pun terjangkit virus “Masuk Pak Eko”. Demam “Masuk Pak Eko” semakin lengkap ketika muncul lagu berjudul kata yang sama, ditambah edit kreatif yang bertebaran di akun media sosial.

Istilah ini memang dikaitkan dengan sosok AKP Eko Hari Cahyono, sang polisi yang bertugas di Pusdiklat Sabhara Porong Sidoarjo. Aksi ketangkasannya setiap melempar beberapa benda dan berhasil menanjap di sebilah potongan batang kayu.

Digambarkan, Pak Eko menerima tantangan dari sekelompok anak kecil yang mendokumentasikan setiap aksi Pak Eko di sela-sela penugasan. “Pacul (cangkul) Pak Eko”, teriakan anak-anak, meminta Pak Eko untuk melepar cangkul lengkap dengan gagangnya kea rah sasaran. “Masuk Pak Eko”, ketika Pak Polisi tersebut berhasil mengenai target dan menanjap erat bak tertarik magnet. Begitupun dengan benda lainnya, mulai sendok, gunting, golok, dan lain-lainnya.

Arti “Masuk” sendiri dalam Bahasa jawa bisa dimaknai sebagai tepat, pas, mantap, sepakat, dan sejenisnya. Intinya ungkapan atau respon atas suatu aksi yang dinilai layak untuk mendapatkan apresiasi atau kesepakatan.

Atraksi ini viral. Menjadikan Pak Eko terkenal dadakan. Diundang ke sana, kemari. Beberapa kali masuk tv. Mendapatkan ucapan selamat dari beberapa pihak. Salah satunya, dari sekelompok anak cam yang direkam oleh seorang anggota TNI yang bertugas atas nama Keamanan PBB.

Lalu, apa hubungannya dengan perdalangan?

“Masuk Pak Eko” bukan istilah baru. Jauh sebelum ke-viral-an aksi dan ucapan Pak Polisi Eko itu ternyata sudah ada istilah “Masuk Pak Eko”, biasa dieja “Masok Pak Eko”.

Awal mula istilah ini dipopulerkan oleh Cak Percil yang biasa satu pasang dengan Cak Yudha Bakiak. Keduanya merupakan seorang pelawak yang terkenal di area Jawa Timur khususnya.

Cak Percil berasal dari Banyuwangi, Cak Yudho asli dari Ngawi. Sama-sama Jawa Timur. Sama-sama binaan Kirun, sang legendaris. Cak Percil dan Cak Yudho bertugas sebagai pelawak dalam sesi “Dagelan atau Limbukan” yang biasa tampil pada saat sesi pagelaran Wayang. Misalnya pagelaran wayang membutuhkan waktu 5 jam, maka sesi Dagelan mengisi selama 1 jam.

Nama Keduanya belum lama juga hangat diperbincangkan. Lantaran harus berurusan hukum saat manggung di Hongkong. Pemerintah dan beberapa seniman turut memperjuangkan agar keduanya lolos dari hukuman. Alhasil, mereka dapat kembali ke tanah air setelah mendekam beberapa saat di penjara.

Cak Pecil dan Cak Yudho tidak sendiri, tapi sepanggung dengan Dalang dan beberapa sinden (penyanyi wanita). Dalang yang biasa bekerja Bersama keduanya pun bergantian, setidaknya ada tiga dalang yang masyur sering tampil Bersama dua pasangan itu.

Cak Percil sesekali menggoda Sinden, apalagi berparas cantik, bersuara bagus, lagi berbodi mantap. Cak Percil biasa meminta sinden maju, menyanyi Bersama, dan sesekali meminta untuk mengikuti instruksi gerakan tarian ala Cak Percil. Pada saat yang sama, Cak Percil biasa berdiri tepat di belakang sinden. Dan ketika Sinden itu sedikit merunduk. Spontan terucap “Masuk Pak Eko”. Maknanya, “Mantap Pak Eko”, “Ajib Pak Eko”, “Kena Pak Eko”, dan sejenisnya lah. Respon genit Cak Percil karena berhasil menggoda Sinden.

Lalu, Kenapa disebut Pak Eko?

Ya, karena nama dalangnya adalah Pak Eko. Lengkapnya, Eko Kondho Prisdianto atau dikenal dengan Ki Eko Prisdianto. Pak Eko bukan dalang biasa. Jam terbangnya kategori highclass. Salah satu dalang ternama di Jawa Timur.

Ki Eko Kondho Prisdianto lahir di desa Kendal Bulur Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung pada 25 Mei 1972. Ia mulai terkenal sebagai dalang sejak tahun 1993-an. Pertama kali pentasnya saat 40 hari meninggal kakeknya yang juga sebagai dalang legendaris. Dalang Ki Murdi Kandha Murdiyat.

Dalang Eko mempunyai istri bernama Sri Rejeki dan dikaruniai 3 anak bernama Ari Kusuma Wardani, Via Wati Kusuma Wardani, dan Jabang Rahmawadi Wisnu Wardana.

Selain mendalang, ia juga tercatat sebagai Kepala Desa. Pada Pemilu Kepala Daerah Tulungagung 2018 kemarin ia pun ikut berpentas. Menjadi Calon Wakil Bupati, berpasangan dengan Margiono. Tapi harus mengakui kekalahan melawan petahana, Syahri Mulyo-Maryoto Bhirowo.

Ada hal lain yang juga mau saya tuliskan tentang Dalang Eko. Bersumber akurat.

Dalang Eko tidak pernah dijelaskan secara rinci siapa orang tuanya. Siapa bapaknya, atau siapa ibunya. Dan bagaimana kabar terakhirnya. Namun yang sering dituliskan adalah Sosok Sang Kakek yang merupakan salah satu dalang legendaris.

Dalang Eko merupakan anak tunggal. Ibunya merupakan putri sang Dalang Legendaris, sementara Bapaknya merupakan seorang warga biasa. Tinggal di desa Panggul, Sidoarjo. Bapak Ibunya telah bercerai sejak Dalang Eko kecil. Sehingga ia lebih banyak mendapatkan didikan dari kakek.

Ayahnya menikah lagi, dengan seorang wanita biasa. Hingga saat ini. Memiliki 7 anak. Yang paling besar berusia sekitar 32-an. Yang paling kecil masih SD.

Dalang Eko masih masih menjalin komunikasi yang baik dengan keluarga baru Ayahnya. Lebaran 2018 kemarin, rombongan keluarga dari Sidoarjo diajak dan disambut hangat di Tulungagung.

Cerita ini banyak saya dengar dari anak pertama dari pernikahan Ayah Dalang Eko dan istri barunya. Alias adek tiri dari Dalang Eko. Namanya Wati. Ia menikah dengan Masduki. Masduki merupakan adek kandung ibu saya, alias paman saya. Sehingga jika cerita ini akurat dan terbukti secara hukum, maka Dalang Eko juga merupakan Paman saya. Meski bukan dari jalur langsung, melainkan dari pernikahan baru ayah dari Dalang Eko. Tulisan ini tidak bermaksud untuk “mengaku-aku” sosok orang terkenal sebagai anggota keluarga. Namun hal ini berdasarkan cerita bibi dan keluarga besarnya di Sidoarjo.

Kembali pada istilah “Masuk Pak Eko”. Salah satu pelajaran berharganya bahwa, rejeki orang berbeda-beda. Meski Cak Percil yang menggaungkan pertama kali Bersama Dalang Eko asal Tulungagung itu, tetapi saat ini nama Polisi Eko lebih dikenal publik karena kelihaiannya dalam melempar benda. Polisi Eko pun mengakui hal ini dalam sesi salah satu wawancara stasiun televisi. Sesama Pak Eko terlihat sangat legowo. “Masuk Pak Eko”. Ady Setiawan

One thought on ““Masuk Pak Eko…!”, Siapa Dia Sebenarnya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *